Menyemai Semangat Gotong Royong Dalam Membangun Kota Yogyakarta
Dalam menyambut hari ulang tahun Proklamasi Kemerdekaan Republik Indonesia yang ke 66 tahun, perlu kiranya perenungan kembali makna nasionalisme Indonesia dikaitkan dengan proses pembangunan masyarakat di Kota Yogayakarta. Sehingga kita bisa menilai sejauh mana semangat nasionalisme terimplementasi dalam setiap gerak langkah pembangunan masyarakat di Kota Yogyakarta.
Sejatinya Proklamasi Kemerdekaan bangsa Indonesia dalam sejarah perkembangannya telah memberi makna yang sangat signifikan bagi nation building dan pemantapan kesadaran nasionalisme Indonesia. Proses pengembangan kesadaran nasionalisme Indonesia dipelopori oleh Bung Karno (terutama) sejak masa mudanya, yang berkeyakinan bahwa hanya dengan ide dan jiwa nasionalismelah sekat-sekat etnik, suku, agama, budaya dan tanah kelahiran bisa ditembus untuk menggalang persatuan perjuangan melawan kolonialisme.
Dalam konteks masyarakat yang hidup dan tinggal di Kota Yogyakarta dewasa ini, gagasan tentang nasionalisme Indonesia seharusnya menemukan ruang geraknya dalam denyut nadi masyarakat Kota Yogyakarta yang majemuk baik dari aspek budaya, suku, agama maupun kelas sosial. Apalagi Yogyakarta yang dikenal sebagai miniatur Indonesia dikarenakan Kota Yogyakarta sebagai Kota Pendidikan merupakan tempat belajar bagi semua warga negara Indonesia yang berasal dari beragam etnis dan budaya dari penjuru tanah air.
Kemajemukan tersebut sejatinya merupakan suatu potensi dan sekaligus modal sosial di dalam proses pembangunan Kota Yogyakarta jika dilandasi oleh suatu nilai nasionalime Indonesia yakni nilai “ Gotong Royong” yang merupakan suatu nilai asli dari bangsa Indonesia. Sebagamaina dikatakan oleh Bung Karno bahwa “ Gotong Royong” adalah paham yang dinamis dan lebih dinamis dari paham ‘Kekeluargaan’, karena paham Gotong Royong adalah suatu usaha bersama, pembantingan tulang bersama, pemerasan keringat bersama, amal semua buat kepentingan semua dan keringat semua untuk kebahagian semua.
Paham Gotong Royong sebagaimana dikatakan oleh Bung Karno tersebut, jelas mengandung makna pentingnya semangat kebersamaan atau solidaritas dalam suatu kolektivitas masyarakat, satu untuk semua, semua untuk satu ( one for all, all for one). “ Holopis kuntul baris”, semua bersatu, berkeringat bersama demi kemajuan dan kesejahteraan bersama.

HENRY KUNCOROYEKTI, SH |
Kota Yogyakarta sebagai kota yang sehat memiliki kopentensi kuat sebagai pusat unggulan dalam membangun generasi penerus berkarakter pemimpin masa depan
AGUNG DAMAR KUSUMANDARU, SE |
Komitmen Ketua DPRD Kota Yogya periode 2009-2014






