Tumbuhkan Semangat Kreatifitas, Produktif dan Konstruktif bagi Kaum Muda Yogya
Oleh : Henry Kuncoroyekti, SH (Ketua DPRD Kota Yogyakarta)
Pada setiap episode sejarah, pemuda selalu menjadi aktor utama dalam sejarah nasional, bahkan menurut B. Anderson peristiwa revolusi kemerdekaan 1945 adalah “revolusi pemuda” yang didorong oleh kesadaran kaum muda untuk melawan penjajahan colonial Belanda (B. Anderson, 1967). Bahkan hingga era tahun 1960-an, 1970-an sampai tahun 1998 (gerakan reformasi) peran pemuda selalu tercatat dalam historiografi Indonesia.
Banyak tokoh-tokoh muda yang lahir dalam setiap periode sejarah dan menjadi inspirasi suatu gerakan perubahan sosial, Soekarno, Hatta, Sjahrir dan Tan Malaka adalah beberapa contoh kaum muda yang lahir pada zaman pergerakan nasional, di mana pada era itu mereka dengan gigih dan berani mengkumandangkan kesadaran akan nasionalisme melalui pendidikan politik dan mengajari rakyat bumi putera untuk berorganisasi, bersyerikat dan berani mengemukakan pendapat dan menentang pemerintah kolonial Belanda. Meskipun mereka harus berhadapan dengan resiko politik dipenjara dan dibuang di Boven Digul.
Semangat dan nilai-nilai para tokoh muda tersebut mampu menjadi inspirasi dan mimpi bagi setiap anak muda pada zamannya. Semangat dan nilai-nilai akan patriotisme, keberanian dalam kebenaran, serta menjunjung tinggi semangat gotong royong (solidaritas) dalam memperjuangkan rakyat seakan mampu menggelorakan semangat kaum muda Indonesia untuk meraih mimpi Indonesia merdeka.
Namun saat ini zaman telah berubah, tantangan dan permasalahan yang dihadapi pemuda Indonesia telah berubah. Tantangan yang dihadapi pemuda saat ini bukan lagi menghadapi kolonialisme namun tantangan juga tidak kalah beratnya yakni globalisasi, kemiskinan, hedonisme dan minimnya lapangan kerjaan menjadi tantangan nyata yang tengah dihadapi pemuda Indonesia saat ini.
Ironisnya tidak semua pemuda menyadari permasalahan dan tantangan tersebut, sebagian dari mereka justru tidak peduli bahkan acuh dengan situasi tersebut. Bahkan tidak jarang dari mereka justru melarikan diri kepada hal-hal yang negatif seperti Narkoba dan tawuran.
Melihat realitas tersebut, tidak sepenuhnya dapat menyalahkan mereka, karena mereka pemuda Indonesia adalah produk dari sistem sosial Indonesia saat ini. Sistem sosial yang mengacu pada prinsip-prinsip kapitalisme dan individualisme yang sejatinya bertentangan dengan Pancasila, tapi pada prakteknya justru nilai-nilai kapitalisme dan indiviudalisme inilah yang berjalan saat ini.
Pemuda akhirnya menjadi korban dari sistem tersebut, sistem yang tidak memberikan ruang mereka untuk mengekspresikan idealisme dan menyuarakan kepentingan mereka. Dalam sistem ini pemuda hanya dipandang sebagai penyedia tenaga kerja bagi mesin-mesin industri, sehingga hanya bagi mereka yang dapat terserap dalam dunia industri sajalah peran pemuda dapat diartikan. Sedangkan sebagian besar pemuda yang tidak terserap langsung akan diberi stempel (stigmatisasi) penangguran dan dari sinilah timbul masalah-masalah sosial seperti, premanisme, tawuran pemuda dan masalah sosial lainnya terutama di daerah perkotaan (urban).
Permasalahan sosial pemuda tersebut tidak hanya melanda kota-kota metropolitan seperti Jakarta, namun juga kota-kota lainnya di Indonesia, seperti juga di Yogya. Kota Yogya adalah kota yang identik sebagai kota pendidikan yang dengan sendirinya jumlah pemuda yang ada cukuplah signifikan. Permasalahan yang dihadapi pemuda di Kota Yogya relatif sama dengan yang dihadapi pemuda Indonesia lainnya. Tidak seimbangnya antara jumlah pencari kerja dengan kesempatan kerja, ditambah lagi dengan kepadatan penduduk yang tinggi dengan luas wilayah sekitar 3.250 Ha atau 32,50 Km, kepadatan penduduknya telah mencapai 16.098 orang per Km2. Minimnya ruang-ruang publik bagi ruang ekspresi pemuda serta ditambah lagi dengan kondisi ketiadaanya sumberdaya alam (SDA) yang dapat dijadikan sumber pendapatan bagi warga khususnya para pemuda yang tidak memiliki pekerjaan.
Situasi ini jika terus dibiarkan akan membuat semakin hari semakin banyak permasalahan yang dihadapi pemuda di Kota Yogya. Jika permasalahan ini tidak segera disikapi oleh semua stake holder Kota Yogya dapat dipastikan akan menjadi bom waktu yang berbahaya bagi kota Yogya di kemudian hari.
Kreatif, Produktif dan Konstruktif
Kota Yogya sebagai kota Pendidikan sudah seharusnya dapat menjadi contoh bagi kota-kota lain di Indonesia dalam mengatasi permasalahan yang dihadapi kaum muda. Kota Yogya dengan atmosfir budaya dan pendidikan seharusnya mampu memberikan ruang katarsis bagi kaum muda sehingga mereka dapat tumbuh kembang sebagai manusia Indonesia yang berdaya guna tidak hanya bagi Kota Yogya namun juga bagi Indonesia, karena banyak dari pemuda yang tinggal di Yogya adalah para pelajar dan mahasiswa dari berbagai penjuru tanah air.
Berdasarkan hal tersebut, beberapa gagasan yang dapat dikembangkan dan dapat dijadikan suatu kebijakan atau program kerja untuk memfasilitasi dan sekaligus memberikan ruang bagi pemuda agar mereka dapat menjadi generasi muda yang handal. Pada prinsipnya gagasan ini berbasis pada nilai-nilai kreatif, produktif dan kontruktif. Kreatif di sini dapat diartikan sebagai suatu daya hidup (elan vital) kaum muda untuk selalu mampu menghadapi tantangan dan kendala dalam kondisi dan situasi apapun. Produktif dapat diartikan sebagai suatu etos kerja dalam mengerjakan segala sesuatu yang positif dan bermanfaat bagi kemanusiaan, sedangkan Konstruktif dapat dimaknai sebagi suatu sprit untuk menciptakan dan membangun sesuatu yang berguna bagi orang lain.
Nilai-nilai Kreatif, Produktif dan Konstruktif ini sejatinya dapat dikembangkan dalam berbagai kebijakan dan program kerja baik yang dilakukan oleh pemerintah Kota Yogya, Perguruan Tinggi, LSM maupun oleh kalangan pemuda sendiri. Sebagai contoh dalam konteks kebijakan dan program kerja pemerintah Kota perlu didesain dan diimplementasikan suatu program yang mampu memfasilitasi ruang kreatifitas pemuda untuk menciptakan industri-industri kreatif.
Seandainya sekulumit gagasan ini dapat diimplementasikan, dapat dipastikan bahwa permasalahan yang dihadapi para pemuda di Kota Yogya relatif dapat teratasi atau minimal dapat terkanalisasikan, sehingga kaum muda Yogya tidak mudah untuk terjebak dengan hal-hal yang negatif seperti narkoba dan tawuran seperti tawuran antar sesasama supporter bola yang terjadi beberapa waktu lalu. Jika gagasan tersebut dapat dukungan semua pihak dapat dipastikan Pemuda Yogya dapat menjadi inspirasi dan menjadi role model (contoh teladan) bagi pemuda daerah-daerah di tanah air, karena pemuda Yogya adalah pemuda yang kreatif, produktif dan konstruktif.

HENRY KUNCOROYEKTI, SH |
Kota Yogyakarta sebagai kota yang sehat memiliki kopentensi kuat sebagai pusat unggulan dalam membangun generasi penerus berkarakter pemimpin masa depan
AGUNG DAMAR KUSUMANDARU, SE |
Komitmen Ketua DPRD Kota Yogya periode 2009-2014







