Pemuda versus Pembangunan, Damaikan!
Oleh : Zurif Hudaya, ST (Ketua Komisi C DPRD Kota Yogyakarta)
Siapa Pemuda?
Jika berbicara tentang pemuda maka makna yang akan terpikirkan terhadap kata tersebut dapat dilihat dari dua sudut pandang. Pertama dari segi usia biologis ataupun pemuda dapat didefinisikan sebagai mereka yang dikategorikan sebagai remaja dan dewasa awal. Kedua, secara psikologis mereka yang disebut sebagai pemuda adalah seseorang yang memiliki sifat seperti pemuda yaitu energik, bersemangat, kreatif, cenderung antikemapanan, dan penuh dengan segala intrik yang bertujuan untuk membangun kepribadian. Sehingga meski berusia diatas kategori pemuda namun memiliki karakter yang sama kerap dikatakan sebagai pemuda atau setidaknya dianggap masih berjiwa muda.
Sumber : BPS Kota Yogyakarta 2009
Dari sisi usia biologis, batasan pemuda menurut World Health Organization adalah mereka yang berusia 10 sampai 24 tahun. Sedangkan United Nations General Assembly dan World Bank sebagai kelompok individu pada usia 15 sampai 24 tahun. Adapun National Highway Traffic Administration memberikan batasan pemuda berusia antara 15 sampai dengan 29 tahun. Berdasarkan definisi tersebut maka pemuda adalah mereka yang berusia diatas 15 tahun dan dibawah 30 tahun. Jika melihat pada kisaran usia tersebut, maka dapat dikatakan pemuda mendominasi wajah piramida Kota Yogyakarta. Berdasarkan data Sensus Penduduk 2009, rentang usia pemuda menjadi 3 besar dalam strata kelompok umur kependudukan. Potensinya mendekati angka 39% dari total penduduk Kota Yogyakata. Tentu sebuah angka kuantitatif yang sangat potensial untuk menjadi motor penggerak pembangunan. Namun adakah kondisi kuantitatif tersebut korelatif dengan kontribusi yang dapat diberikan oleh pemuda ataupun perhatian yang diberikan oleh pemerintah untuk menjadikan pemuda sebagai stakeholder pembangunan?
Pemuda Jogja, Zaman Sekarang?
Menakar potensi dan kontribusi pemuda tentu tidak terlepas dari membicarakan persoalan yang hingga saat ini masih melekat dengan pemuda Jogja. Persoalan pertama yang mendera pemuda Jogja adalah persoalan pendidikan. Meski mendapatkan predikat sebagai Kota Pendidikan, namun angka putus sekolah masih dijumpai di Kota Yogyakarta. Menurut definisi Badan Pusat Statistik, angka putus sekolah adalah angka yang menunjukkan ketidakmampuan usia sekolah untuk menyelesaikan pendidikan dasar minimal sampai dengan jenjang SMP. Jumlah siswa putus sekolah pada tahun 2009 yakni 0.031 persen, turun dari angka apda 2008 sebesar 0,037 persen (Kedaulatan Rakyat, 29 Maret 2011).
Demikian pula dengan fasilitas pendidikan, dimana daya tampung sekolah Negri untuk tingkat SMA hanya sebesar 2.574 siswa dan SMK sebanyak 2.808 siswa. Sangat jauh dibandingkan angka usia SMA-SMK yang berjumlah 49.103 jiwa. Tidak berimbangnya angka tersebut memaksa sebagian besar dari mereka mengambil sekolah swasta, dengan konsekuensi kualitas bisa jadi lebih rendah dan biaya pendidikan lebih tinggi. Atau mengambil sekolah luar kota yang berdampak kepada jarak tempuh lebih jauh ataupun kualitas yang belum tentu sepadan dengan sekolah dalam kota. Demikian pula dengan fasilitas pemberdayaan pemuda. Hingga saat ini fasilitas untuk menampung aktivitas pemuda seperti Youth Center atau Sport Center masih sangat terbatas. Jika pun ada baru sebatas stadion sepak bola yang dikenal untuk olahraga prestatif serta sport center level kampung. Youth Center yang lengkap dan full fasilitas baik untuk Olahraga, IT, maupun inisiasi bisnis masih belum terwujud.
Beranjak kepada indikator sosial, angka kriminalitas yang dibeberkan oleh Lapas Kelas I khusus Anak-anak Wirosaban menunjukan kasus yang menimpa anak dan remaja semakin meningkat dari tahun ke tahun. Pada tahun 2010 terdapat 287 kasus sedang untuk 2011 sampai dengan April terdapat 125 kasus. Demikian pula dengan kasus kekerasan kepada anak pada tahun 2010 baik berupa berupa kasus perkosaan dan pelecehan seksual terhadap anak mencapai 38 kasus atau naik 53%. Menurut Rifka Annisa, angka tersebut naik dibandingkan angka tahun lalu sebesar 25 kasus. Angka lebih mencengangkan dipaparkan oleh Rifka Annisa bahwa perilaku seksual remaja berusia 16-22 tahun semakin beresiko terhadap kondisi kesehatan reproduksi, dimana 3 hingga orang dari 10 orang mengaku pernah berhubungan seksual di luar nikah atau pergi ke prostitusi.
Problem sosial yang tak kalah pelik menghadang masa depan pemuda Jogja adalah terus meningkatnya angka pengangguran. Pada tahun 2008 hingga sebanyak 28.813 orang atau sebesar 11,12% dari angkatan kerja dan terus meningkat sebesar menjadi 31.222 orang pada tahun 2009 atau mencapai 12,96% dari jumlah angkatan kerja. Pada tahun 2010, angka tersebut turun menjadi 20.136 jiwa. Pemerintah mengakui, masih tingginya angka pengangguran tersebut disebabkan oleh laju pertumbuhan penduduk angkatan kerja tidak sebanding dengan daya serap lapangan pekerjaan. Dengan kata lain, pemerintah gagal untuk menumbuhkan dan menciptakan lapangan pekerjaan baru ataupun menumbuhkan mentalitas usaha mandiri terutama kepada kalangan pemuda.
Tantangan lain yang bakal dominan yang harus dihadapi pemuda saat ini adalah adalah revolusi dibidang teknologi informasi dan komunikasi yang menyebabkan hubungan antar individu dapat berlangsung tanpa mengharuskan tatap muka dengan kecepatan maupun luasan distribusi tanpa batas dan biaya sangat murah. Ditengah kecenderungan usia remaja pemuda yang sedang mengalami krisis kepercayaan diri maupun proses pencarian jati diri, kecanggihan teknologi informasi menggiring mereka untuk menggunakan teknologi sebagai cara mencari eksistensi diri yang cenderung berbahaya jika tidak dikatakan sebagai kejahatan dunia maya atau cyber crime. Lihalah bagaimana facebook menjadi ajang pamer diri mengarah kepada pornografi, penipuan dan kejahatan keuangan bahkan penculikan dengan obyek dan subyek remaja.
Pemuda dan Kebijakan Jogja, Apa Kabar?
Dengan segala realitas dan problematika pemuda di Jogja, adakah pemerintah aware untuk menyelesaikan persoalan pemuda masa kini dan mengantisipasi kejadian dimasa mendatang. Langkah deteksi “perhatian” tersebut dapat dilihat dengan menyoroti kualitas ataupun kuantitas APBD Kota Yogyakarta. Selama lima tahun terakhir, proporsi anggaran untuk kegiatan kepemudaan yang berada di pos anggaran Kantor Kesatuan Bangsa, Pemuda dan Olahraga melalui Program Pembinaan dan Pengembangan Generasi Muda hanya berkisar pada persentase 0,02-0,03% dari Belanja Daerah, dengan variasi kegiatan yang sangat minimalis bahkan terkesan seremoni seperti Pemuda Pelporo, Kemah Bakti, Gelar Seni atau Forum Peningkatan Iman Taqwa. Bahkan pada tahun 2012 ini, jumlah anggaran untuk program tersebut menjadi anggaran paling sedikit dibandingkan program serupa pada APBD sebelumnya.

Keterikatan pemuda dengan anggaran daerah adalah langkah awal untuk mengarahkan peran pemuda dalam pembangunan sekaligus menyelesaikan serangkaian persoalan yang dihadapi oleh pemuda Jogja. Menilik jumlah kuantitatif yang sangat banyak bahkan mendominasi, sudah saatnya pemerintah Jogja dibawah imperium baru menunjukkan komitmen keberpihakannya kepada pemuda. Sudah saatnya pemerintah Jogja memberikan perhatian serius kepada pemuda, tidak hanya dengan memberikan perhatian kepada generasi muda yang bermasalah saja. Saatnya sekarang pemerintah lebih banyak memperhatikan generasi muda yang memiliki potensi dan kreatifitas luar biasa, serta tentu saja mampu memberikan produtifitas kepada masyarakat di sekitarnya.
Pemuda dan Pembangunan, Mari Damaikan!
Mendamaikan Pemuda dan Pembangunan tentu menjadi satu-satunya langkah untuk menjadikan potensi pemuda dari sisi kuantitas maupun kualitas dapat berjalan maksimal. Sifat pantang menyerah, konsisten, berani mengambil resiko, berfikir out of the box, bertindak extraordinary adalah paduan karakter yang akan menjadi jaminan untuk membawa kejayaan sebuah bangsa. Yang pemuda butuhkan dari negara dan pemerintah adalah kepercayaan dan kesempatan untuk memberikan bukti nyata kepada bangsanya.
Pada langkah awal adalah memberikan fasilitasi bagi pemuda untuk membangun kepercayaan diri pemuda akan dirinya sendiri sendiri, tidak akan takut terhadap pengaruh eksternal dari manapun datangnya, dan mereka mampu menyaring apa yang ada di sekitarnya, baik yang datang dari masyarakatnya sendiri maupun dari dunia luar. Berbagai fasilitas untuk mengekspresikan diri maupun menggali potensi diri menjadi hal yang wajib untuk diberikan kepada generasi muda. Sebagai pemuda yang dibesarkan dalam kultur pendidikan yang kuat, tentu mentalitas belajar menjadi modal penting untuk menjadikan fasilitas tersebut fungsional sesuai tujuan pembentukan karakter diri pemuda.
Langkah kedua adalah mengakomodasi dan mendorong kreativitas yang sudah terbentuk tersebut menjadi sumber energi kemandirian dan kekuatan pemuda. dan meramu ke dalam suatu kreasi atau ciptaan baru yang orisinil. Kemandirian dari sisi ekonomi adalah kata kunci untuk menjadikan mereka independen didepan orang tua, didepan pemerintah dan didepan negara. Munculnya pribadi-pribadi extraordinary yang kreatif dan produktif akan mengubah wajah pemuda saat ini yang bersifat sebaliknya yaitu konsumtif dan hedonis. Dengan kemandirian dan kreatifitas, tidak hanya akan menjadikan mereka sebagai pribadi yang tidak tergantung pada dunia luar, tidak berkiblat dan menjadi follower semata, namun menjadi pribadi yang siap bersaing dan menepuk dada bahwa pemuda jogja mandiri dan istimewa.
Langkah ketiga, menjadikan pemuda sebagai key person dalam persoalan kemanusiaan dan moralitas, serta mengembangkan rasa solidaritas diantara mereka. Mengubah mereka dari potensi sampah masyarakat menjadi pekerja sosial masyarakat yang akan membimbing, memimpin dan mendampingi masyarakatnya keluar dari persoalan kemanusiaan seperti kemiskinan, pengangguran dsb. Kemampuan kepemimpinan pemuda di tengah masyarakatnya secara tidak langsung akan mendorong lahirnya jiwa-jiwa kepemimpinan bangsa yang bijak, tawadhu, sederhana dan jauh dari sifat korupsi maupun kolusi. Sebab mereka lahir dari masyarakatnya sendiri, sehingga manakala estafet kepemimpinan beralih kepada mereka disuatu saat nanti, maka pemuda-pemuda itu akan mampu menjadi pemimpin yang merakyat.
Dan pemimpin seperti itulah yang saat ini dirindukan oleh masyarakat. Pemuda yang mampu membangun masyarakat, mengubah kondisi masyarakatnya dari kemiskinan menuju kesejahteraan.
Dan hal itu hanya bisa dilakukan jika pemuda diposisikan menjadi subjek pembangunan, tidak sekedar obyek pembangunan. Terlebih obyek yang terpinggirkan.
Jadi, menginginkan pemuda berdaya? Damaikan saja mereka dengan gerak kereta pembangunan. Jangan tinggalkan!
Pemuda versus Pembangunan, Damaikan!
Oleh : Zurif Hudaya, ST (Ketua Komisi C DPRD Kota Yogyakarta)
Siapa Pemuda?
Jika berbicara tentang pemuda maka makna yang akan terpikirkan terhadap kata tersebut dapat dilihat dari dua sudut pandang. Pertama dari segi usia biologis ataupun pemuda dapat didefinisikan sebagai mereka yang dikategorikan sebagai remaja dan dewasa awal. Kedua, secara psikologis mereka yang disebut sebagai pemuda adalah seseorang yang memiliki sifat seperti pemuda yaitu energik, bersemangat, kreatif, cenderung antikemapanan, dan penuh dengan segala intrik yang bertujuan untuk membangun kepribadian. Sehingga meski berusia diatas kategori pemuda namun memiliki karakter yang sama kerap dikatakan sebagai pemuda atau setidaknya dianggap masih berjiwa muda.
Sumber : BPS Kota Yogyakarta 2009
Dari sisi usia biologis, batasan pemuda menurut World Health Organization adalah mereka yang berusia 10 sampai 24 tahun. Sedangkan United Nations General Assembly dan World Bank sebagai kelompok individu pada usia 15 sampai 24 tahun. Adapun National Highway Traffic Administration memberikan batasan pemuda berusia antara 15 sampai dengan 29 tahun. Berdasarkan definisi tersebut maka pemuda adalah mereka yang berusia diatas 15 tahun dan dibawah 30 tahun. Jika melihat pada kisaran usia tersebut, maka dapat dikatakan pemuda mendominasi wajah piramida Kota Yogyakarta. Berdasarkan data Sensus Penduduk 2009, rentang usia pemuda menjadi 3 besar dalam strata kelompok umur kependudukan. Potensinya mendekati angka 39% dari total penduduk Kota Yogyakata. Tentu sebuah angka kuantitatif yang sangat potensial untuk menjadi motor penggerak pembangunan. Namun adakah kondisi kuantitatif tersebut korelatif dengan kontribusi yang dapat diberikan oleh pemuda ataupun perhatian yang diberikan oleh pemerintah untuk menjadikan pemuda sebagai stakeholder pembangunan?
Pemuda Jogja, Zaman Sekarang?
Menakar potensi dan kontribusi pemuda tentu tidak terlepas dari membicarakan persoalan yang hingga saat ini masih melekat dengan pemuda Jogja. Persoalan pertama yang mendera pemuda Jogja adalah persoalan pendidikan. Meski mendapatkan predikat sebagai Kota Pendidikan, namun angka putus sekolah masih dijumpai di Kota Yogyakarta. Menurut definisi Badan Pusat Statistik, angka putus sekolah adalah angka yang menunjukkan ketidakmampuan usia sekolah untuk menyelesaikan pendidikan dasar minimal sampai dengan jenjang SMP. Jumlah siswa putus sekolah pada tahun 2009 yakni 0.031 persen, turun dari angka apda 2008 sebesar 0,037 persen (Kedaulatan Rakyat, 29 Maret 2011).
Demikian pula dengan fasilitas pendidikan, dimana daya tampung sekolah Negri untuk tingkat SMA hanya sebesar 2.574 siswa dan SMK sebanyak 2.808 siswa. Sangat jauh dibandingkan angka usia SMA-SMK yang berjumlah 49.103 jiwa. Tidak berimbangnya angka tersebut memaksa sebagian besar dari mereka mengambil sekolah swasta, dengan konsekuensi kualitas bisa jadi lebih rendah dan biaya pendidikan lebih tinggi. Atau mengambil sekolah luar kota yang berdampak kepada jarak tempuh lebih jauh ataupun kualitas yang belum tentu sepadan dengan sekolah dalam kota. Demikian pula dengan fasilitas pemberdayaan pemuda. Hingga saat ini fasilitas untuk menampung aktivitas pemuda seperti Youth Center atau Sport Center masih sangat terbatas. Jika pun ada baru sebatas stadion sepak bola yang dikenal untuk olahraga prestatif serta sport center level kampung. Youth Center yang lengkap dan full fasilitas baik untuk Olahraga, IT, maupun inisiasi bisnis masih belum terwujud.
Beranjak kepada indikator sosial, angka kriminalitas yang dibeberkan oleh Lapas Kelas I khusus Anak-anak Wirosaban menunjukan kasus yang menimpa anak dan remaja semakin meningkat dari tahun ke tahun. Pada tahun 2010 terdapat 287 kasus sedang untuk 2011 sampai dengan April terdapat 125 kasus. Demikian pula dengan kasus kekerasan kepada anak pada tahun 2010 baik berupa berupa kasus perkosaan dan pelecehan seksual terhadap anak mencapai 38 kasus atau naik 53%. Menurut Rifka Annisa, angka tersebut naik dibandingkan angka tahun lalu sebesar 25 kasus. Angka lebih mencengangkan dipaparkan oleh Rifka Annisa bahwa perilaku seksual remaja berusia 16-22 tahun semakin beresiko terhadap kondisi kesehatan reproduksi, dimana 3 hingga orang dari 10 orang mengaku pernah berhubungan seksual di luar nikah atau pergi ke prostitusi.
Problem sosial yang tak kalah pelik menghadang masa depan pemuda Jogja adalah terus meningkatnya angka pengangguran. Pada tahun 2008 hingga sebanyak 28.813 orang atau sebesar 11,12% dari angkatan kerja dan terus meningkat sebesar menjadi 31.222 orang pada tahun 2009 atau mencapai 12,96% dari jumlah angkatan kerja. Pada tahun 2010, angka tersebut turun menjadi 20.136 jiwa. Pemerintah mengakui, masih tingginya angka pengangguran tersebut disebabkan oleh laju pertumbuhan penduduk angkatan kerja tidak sebanding dengan daya serap lapangan pekerjaan. Dengan kata lain, pemerintah gagal untuk menumbuhkan dan menciptakan lapangan pekerjaan baru ataupun menumbuhkan mentalitas usaha mandiri terutama kepada kalangan pemuda.
Tantangan lain yang bakal dominan yang harus dihadapi pemuda saat ini adalah adalah revolusi dibidang teknologi informasi dan komunikasi yang menyebabkan hubungan antar individu dapat berlangsung tanpa mengharuskan tatap muka dengan kecepatan maupun luasan distribusi tanpa batas dan biaya sangat murah. Ditengah kecenderungan usia remaja pemuda yang sedang mengalami krisis kepercayaan diri maupun proses pencarian jati diri, kecanggihan teknologi informasi menggiring mereka untuk menggunakan teknologi sebagai cara mencari eksistensi diri yang cenderung berbahaya jika tidak dikatakan sebagai kejahatan dunia maya atau cyber crime. Lihalah bagaimana facebook menjadi ajang pamer diri mengarah kepada pornografi, penipuan dan kejahatan keuangan bahkan penculikan dengan obyek dan subyek remaja.
Pemuda dan Kebijakan Jogja, Apa Kabar?
Dengan segala realitas dan problematika pemuda di Jogja, adakah pemerintah aware untuk menyelesaikan persoalan pemuda masa kini dan mengantisipasi kejadian dimasa mendatang. Langkah deteksi “perhatian” tersebut dapat dilihat dengan menyoroti kualitas ataupun kuantitas APBD Kota Yogyakarta. Selama lima tahun terakhir, proporsi anggaran untuk kegiatan kepemudaan yang berada di pos anggaran Kantor Kesatuan Bangsa, Pemuda dan Olahraga melalui Program Pembinaan dan Pengembangan Generasi Muda hanya berkisar pada persentase 0,02-0,03% dari Belanja Daerah, dengan variasi kegiatan yang sangat minimalis bahkan terkesan seremoni seperti Pemuda Pelporo, Kemah Bakti, Gelar Seni atau Forum Peningkatan Iman Taqwa. Bahkan pada tahun 2012 ini, jumlah anggaran untuk program tersebut menjadi anggaran paling sedikit dibandingkan program serupa pada APBD sebelumnya.

Keterikatan pemuda dengan anggaran daerah adalah langkah awal untuk mengarahkan peran pemuda dalam pembangunan sekaligus menyelesaikan serangkaian persoalan yang dihadapi oleh pemuda Jogja. Menilik jumlah kuantitatif yang sangat banyak bahkan mendominasi, sudah saatnya pemerintah Jogja dibawah imperium baru menunjukkan komitmen keberpihakannya kepada pemuda. Sudah saatnya pemerintah Jogja memberikan perhatian serius kepada pemuda, tidak hanya dengan memberikan perhatian kepada generasi muda yang bermasalah saja. Saatnya sekarang pemerintah lebih banyak memperhatikan generasi muda yang memiliki potensi dan kreatifitas luar biasa, serta tentu saja mampu memberikan produtifitas kepada masyarakat di sekitarnya.
Pemuda dan Pembangunan, Mari Damaikan!
Mendamaikan Pemuda dan Pembangunan tentu menjadi satu-satunya langkah untuk menjadikan potensi pemuda dari sisi kuantitas maupun kualitas dapat berjalan maksimal. Sifat pantang menyerah, konsisten, berani mengambil resiko, berfikir out of the box, bertindak extraordinary adalah paduan karakter yang akan menjadi jaminan untuk membawa kejayaan sebuah bangsa. Yang pemuda butuhkan dari negara dan pemerintah adalah kepercayaan dan kesempatan untuk memberikan bukti nyata kepada bangsanya.
Pada langkah awal adalah memberikan fasilitasi bagi pemuda untuk membangun kepercayaan diri pemuda akan dirinya sendiri sendiri, tidak akan takut terhadap pengaruh eksternal dari manapun datangnya, dan mereka mampu menyaring apa yang ada di sekitarnya, baik yang datang dari masyarakatnya sendiri maupun dari dunia luar. Berbagai fasilitas untuk mengekspresikan diri maupun menggali potensi diri menjadi hal yang wajib untuk diberikan kepada generasi muda. Sebagai pemuda yang dibesarkan dalam kultur pendidikan yang kuat, tentu mentalitas belajar menjadi modal penting untuk menjadikan fasilitas tersebut fungsional sesuai tujuan pembentukan karakter diri pemuda.
Langkah kedua adalah mengakomodasi dan mendorong kreativitas yang sudah terbentuk tersebut menjadi sumber energi kemandirian dan kekuatan pemuda. dan meramu ke dalam suatu kreasi atau ciptaan baru yang orisinil. Kemandirian dari sisi ekonomi adalah kata kunci untuk menjadikan mereka independen didepan orang tua, didepan pemerintah dan didepan negara. Munculnya pribadi-pribadi extraordinary yang kreatif dan produktif akan mengubah wajah pemuda saat ini yang bersifat sebaliknya yaitu konsumtif dan hedonis. Dengan kemandirian dan kreatifitas, tidak hanya akan menjadikan mereka sebagai pribadi yang tidak tergantung pada dunia luar, tidak berkiblat dan menjadi follower semata, namun menjadi pribadi yang siap bersaing dan menepuk dada bahwa pemuda jogja mandiri dan istimewa.
Langkah ketiga, menjadikan pemuda sebagai key person dalam persoalan kemanusiaan dan moralitas, serta mengembangkan rasa solidaritas diantara mereka. Mengubah mereka dari potensi sampah masyarakat menjadi pekerja sosial masyarakat yang akan membimbing, memimpin dan mendampingi masyarakatnya keluar dari persoalan kemanusiaan

HENRY KUNCOROYEKTI, SH |
Kota Yogyakarta sebagai kota yang sehat memiliki kopentensi kuat sebagai pusat unggulan dalam membangun generasi penerus berkarakter pemimpin masa depan
AGUNG DAMAR KUSUMANDARU, SE |
Komitmen Ketua DPRD Kota Yogya periode 2009-2014







